Titik balik spiritualnya terjadi di Turki, di mana ia bertemu dengan seorang partner bisnis Muslim yang berperilaku baik, seperti berdoa secara rutin dan berbicara lembut kepada ibunya. Hal ini memicu rasa penasaran Canyon terhadap Islam.
Baca Juga: Mualaf Lokal: Resmi Mualaf, Warga Baruga Kendari Ini Rasakan Ketenangan Hati
Saat diundang ke Pakistan oleh partnernya, Canyon awalnya ragu karena stereotip negatif tentang negara itu. Namun, pengalaman di sana justru mengubah hidupnya.
Ia terlibat dalam imersi budaya Islam, ikut sholat di masjid, mendengarkan khotbah imam meski tak paham bahasa Urdu, membaca Al-Quran sebelum tidur, dan makan bersama keluarga lokal meski ada hambatan bahasa.
Canyon merasakan kedamaian mendalam dari praktik-praktik ini. Setelah sekitar satu bulan membaca Al-Quran dan bertanya di masjid, ia melihat kehidupan umat Muslim yang bahagia meski sederhana, kontras dengan pengusaha kaya yang ia kenal tapi tak bahagia.
