"Masya Allah senang sekali", ungkapnya bersamaan dengan seluruh ekspresi sejuta-juta bahagia. Laksana paceklik mencekik, tanaman bahkan tumbuhan sudah mulai mengering, pasokan pangan sudah tinggal segenggam, lalu bulir-bulir hujan turun membasahi bumi. Juga seperti mualaf yang baru pertama kali melakoni puasa Ramadan, menahan dahaga, menyeka lapar, lalu adzan magrib berkumandang di langit bermega jingga.
Ia akhirnya memetik banyak hikmah di balik keterbatasan anak didiknya. Ada intan berlian emas permata menguntai-untai, kurikulum yang tak pernah lekang, masa belajarnya sepanjang masa (long life) yaitu kesyukuran dan keikhlasan.
Citanya semakin menggebu. Mengajar bukanlah perihal kewajiban material, melainkan keterpanggilan jiwa, keturutan moral dalam membangun kemanusiaan.
Pagebluk COVID-19 telak mengarak manusia menuju alam virtual, memasuki dunia dalam kaca atau the mirror era. Segala-galanya mendadak berbasis daring. Bahkan beberapa hari yang lalu Menteri Nadiem melantik secara daring pejabat lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Susah juga kalau ngajar online anak autis," ungkapnya.
