Ketika di bangku kuliah ia bergabung dengan gerakan Liga Pertahanan Inggris English Defence League (EDL). Organisasi yang menganut paham politik sayap-kanan ekstrem. Ideologinya, salah satunya adalah Islamofobia. Ia pun aktif dalam berbagai unjuk rasa anti-Islam.
pertemanannya di EDL mengubah pribadinya. Komunikasinya dengan orang tua tidak lagi baik. Chris mulai menyukai minuman keras, bahkan menenggak khamar sampai mabuk. Ia pun tidak ragu-ragu untuk mengonsumsi narkoba.
Dua tahun lamanya Chris menjadi anggota EDL Leeds. Belakangan, ia menyadari bahwa dalam masa itu dirinya hanya membebek para petinggi organisasi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk mengenal atau mencari tahu sendiri segala hal tentang Islam.
Chris awalnya mengira Islam adalah agama yang seharusnya dipeluk oleh orang-orang non- Eropa saja. Barulah sesudah lewat dua tahun aktif di EDL, ia memahami bahwa Muslim bukanlah identik dengan kebangsaan tertentu.
Pada faktanya, negara dengan jumlah muslimin terbanyak justru bukan negeri mana pun di Timur Tengah, melainkan Indonesia sebuah republik di Asia Tenggara.
