"Saya sangat pro terhadap Israel, sampai menganggap Israel adalah identitas kebangsaan," kata dia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas, dia mulai mengenal dunia luar. Dia bergaul dengan orang-orang dari berbagai budaya, agama dan keyakinan. Mendapati dirinya berada di lingkungan yang jauh berbeda dari sebelumnya, membuat wanita bercadar ini harus bisa menyesuaikan diri sebaik mungkin. Ia juga mengaku sering mendapat pertanyaan yang tak jarang dapat menggoyahkan keyakinannya.

Dikutip dari Hidayatullah.com, seringkali ia berhasil menjawab pertanyaan mereka. Namun, tak jarang pula dia gagal. Sehingga ia sendiri pun mulai mempertanyakan ajaran Yudaisme dan mulai menjauhi agama yang dianutnya.

Baca Juga: Kisah Tentara Wanita Amerika Mualaf, Dapat Hidayah saat Bertugas

Keraguan terhadap Yahudi, membuatnya berani melanggar ajaran agamanya dengan bermain ponsel saat Shabbat. Padahal pada Shabbat, atau hari Sabtu, orang Yahudi dilarang menyentuh ponsel dan akan beristirahat dari semua kegiatan. Keadaan ini terjadi selama beberapa bulan.