Hal-hal kecil itulah yang membuatnya semakin sadar dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang masuk akal dan sempurna. Meski meyakini Islam, ia belum berani berpindah agama. Hal tersebut lantaran ia merasa belum siap untuk benar-benar meninggalkan semua budaya dan tradisi yang selama ini ia yakini. Karena semua itu telah menjadi bagian dari diri dan identitasnya.
Namun akhirnya ia menyadari bahwa dengan masuk Islam dia sebenarnya tidak meninggalkan ajaran Yudaisme. Malah menurutnya, memeluk Islam dan menjadi Muslim membuatnya menjadi seorang “Yahudi” yang lebih baik.
“(Dengan masuk Islam) saya tidak meninggalkan ajaran Yudaisme. Itu (Islam dan Yahudi) menyembah Tuhan yang sama,” katanya.
Wanita itu pun akhirnya bersyahadat dan masuk Islam pada bulan suci Ramadan tahun 2017. Tak seperti orang dari agama lain, dia telah terbiasa berpuasa saat perayaan Yahudi, Yom Kippur sehingga ia tak merasa kesulitan mengerjakan salah satu rukun Islam tersebut.
Ia mengaku, Allah SWT banyak memberinya kemudahan dalam hidupnya. Seperti saat ia belajar untuk salat. Ia tak pernah belajar bahasa Arab, namun ia dengan cepat dapat menghafal bacaan salat. (C)
