Untuk membayar uang Rp 10 juta ke agensi, Nur dan beberapa temannya dibantu oleh kampus UNISULA. Sisanya ia meminjam kepada saudara-saudaranya dan juga bibi-bibinya di Wakatobi dengan jaminan akan dikembalikan ketika ia sudah bekerja di Makkah nanti.
Setelah mengurus segala dokumen yang diperlukan untuk keberangkatan, Nur lalu terbang ke kota Mekkah, Arab Saudi untuk bekerja sebagai seorang perawat di sana pada Juni 2018.
“Pertama kali ke Arab saya mengalami Culture Shock. Mulai dari bahasa, makanan, suhu, dan budaya di sana yang sangat berbeda dengan di Indonesia,” ujar Nur Anugerah Ali.
“Bahasa Arab yang digunakan di sana berbeda dengan bahasa Arab di pesantren. Kemudian dari segi makanan awalnya saya hanya makan nugget dan nasi saja. Lalu di Saudi, suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius dan itu panas banget. Kemudian sebagai perawat kita dilarang untuk senyum kepada pasien karena itu berarti menggoda kalau di sana,” tambahnya.
“Alhamdulillah sekarang hampir semua sudut Kota Makkah sudah pernah saya jelajahi. Termasuk melaksanakan ibadah Haji dan Umroh di usia yang terbilang masih sangat muda yaitu 24 tahun,” kata Nur Anugerah.
