Ibunya kaget dan sempat tidak mengakui Arisa sebagai anak karena khawatir anaknya akan di-bully atau kesulitan menikah di Jepang, di mana Muslim adalah minoritas.

“Ibuku bilang aku bukan anaknya lagi dan tidak mau berbicara denganku untuk waktu yang lama,” cerita Arisa.

Meski menghadapi penolakan awal, Arisa tetap bersikap baik kepada keluarganya, berusaha menunjukkan bahwa Islam membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Dukungan datang dari adik perempuannya, yang membantu meyakinkan sang ibu bahwa Arisa tetap orang yang sama. Perlahan, hati ibunya luluh.

“Ibu akhirnya melihat Islam sebagai agama yang indah dan meminta maaf sambil menangis,” ujar Arisa.