Di ibu kota Jakarta, dia hidup mengontrak sebuah kamar kecil. Yang hingga kini masih ditempatinya.

Setiap hari, setelah sholat subuh, dia mengaji Al-Quran satu sampai dua juz. Lalu sholat Dhuha.

Kelar itu, barulah dia keluar bekerja menyusuri riuh jalan, dan keluar masuk kampung di Jakarta. Bahkan hingga ke Depok, Bogor, dan BSD Tangerang. Dengan mengendarai sepeda ontel tua.

Sepeda ini dibuat unik, karena ditempeli kertas bertuliskan: Tukang pijat keliling bisa dipanggil - bayar sukarela. Lengkap dengan nomor kontak telepon genggamnya.

Tidak itu saja, Pak Bin juga melengkapi diri dengan toa pengeras suara. Sambil mengayuh sepeda, tangan kanannya memegang toa dan mengumumkan jasa tukang urutnya.