Menurut penuturan Nur Hidayat, Wanti malu jika harus ikut berjualan di pinggir jalan, sehingga Wanti hanya ingin membantu membuat sapu lidi dan membiarkan Nur Hidayat yang menjualnya.
bersama satu orang anak dan empat cucunya, Nur Hidayat tinggal di sebuah gubuk jalan Sao-sao, samping Kantor BPK dekat SMPN 9, kompleks pemulung. Bermodalkan Rp 100.000, ia menyewa lahan di tanah orang lain dan membangun gubuk kecil menggunakan tripleks yang dibantu oleh beberapa orang tetangganya.
Pencahayaan di gubuk kecilnya dialirkan oleh tetangganya yang lain, yang bersedia memberikan aliran listrik ke gubuk kecilnya.
"Cahaya lampu, saya dibantu tetangga yang anaknya saya ajar ngaji," 6Kata Nur Hidayat tersenyum.
Nur Hidayat juga seorang guru ngaji, Sekalipun menjadi pedagang sapu, ia masih tetap bisa mengajarkan anak-anak sekitar kompleks mengaji. ada beberapa anak-anak tetangga yang juga mau diajar mengaji olehnya. Saat malam tiba setelah selesai berdagang, Nur Hidayat baru akan mengajar di gubuk kecil miliknya.
