Uniknya, teknik pemasarannya yang khas membuatnya dikenal luas di kalangan mahasiswa. Sapaan “Korang ndak lapar kah atau ko ndak pakaikah korang punya uang?” sudah menjadi semacam slogan yang melekat hingga kini.

“Itu spontan saja. Saya anggap mahasiswa ini anak-anak saya, jadi saya tawari dengan cara bercanda. Lama-lama jadi kebiasaan dan akhirnya jadi ciri khas,” ujarnya.

Kini, meski generasi mahasiswa terus berganti, sosok penjual jalangkote itu tetap hadir setiap hari di sudut kampus, menjadi saksi perjalanan dan kenangan banyak mahasiswa FISIP UHO. (C)

Penulis: Nurfadila

Editor: Kardin