Namun lewat komunitas PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia), ia bertemu banyak saudara yang senasib dan sepenanggungan dengannya.

“Dulu saya sempat marah dan tidak terima, tapi ternyata saat saya bergabung bersama PERTUNI saya sadar bahwa ternyata masih ada lagi orang di bawah saya. Sejak saat itu saya bangkit kembali dan menjalani hidup dengan normal,” ungkapnya saat ditemui Rabu (29/9/2021).

Meski demikian, pada Karim dan Sindi,  Tuhan benar-benar menunjukkan betapa maha adilnya Dia. Meski terlahir dengan mata yang cacat, Karim dan Sindi punya bakat yang luar biasa. Mereka punya suara yang indah serta mahir bernyanyi.

Dengan kemampuan dan bakat inilah mereka mengadu nasib menjadi pengamen jalanan di pinggir jalan, di salah satu kawasan pusat perbelanjaan Kota Kendari, Lippo Plaza.

Dengan kondisi seperti ini, tidak ada upaya lain yang dapat mereka lakukan demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.