Tetapi di balik kesuksesan saat ini, ada titik terendah yang dirasakan sosok Ibu dua anak ini, di mana pada saat ia mulai merintis usaha toko kelontongnya, suaminya pergi merantau ke negeri Jiran dan hilang kabar selama lima tahun.
"Suami saya pergi itu pada tahun 2001 sampai tahun 2005 baru balik lagi ke sini, selama merantau ia tak ada kabar," ungkapnya.
Keputusannya membangun usaha toko kelontong ini juga dikarenakan untuk menunjang kehidupannya bersama putri sulungnya yang saat itu masih usia belia serta ia tidak mampu berkebun seperti layaknya masyarakat sekitar, sehingga ia memutuskan untuk merintis toko kelontong.
"Saya tidak bisa berkebun jadi selama suami saya pergi merantau tanpa kabar, saya bangun kios untuk kehidupan pada waktu itu," tuturnya.
Dan selama beberapa tahun, akhirnya usaha toko kelontongnya menjadi besar bahkan dikatakan grosir sembako bagi penjual eceran sekitarnya.
