Perjalanan menuju Kendari memakan waktu sekitar tiga jam, dan ia sering kali masuk ke pasar atau pelabuhan untuk mencari pembeli. Rimin memilih menjual di pusat kota karena di daerahnya, penjualannya sangat kurang laku. Di Kendari, ia sering mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang-orang dermawan.

Dengan suara lantang, Rimin berteriak menawarkan kuenya sambil tersenyum kepada setiap pembeli, meskipun terik matahari menyengat.

Salah satu warga, Hilma, mengungkapkan rasa harunya saat melihat perjuangan kakek Rimin. "Kasihan, panas matahari, kadang saya lihat sepedanya didorong sambil teriak 'tape, tape'," ujarnya.

Warga lainnya, Anti, berharap pemerintah dapat memberikan bantuan kepada orang tua seperti Rimin, yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup di usia yang sudah lanjut. "Seharusnya orang tua seperti kakek itu dibantu pemerintah," kata Anti. (A)

Penulis: Erni Yanti