"Sesaat sudah terbalik, saya kemudian lihat triplek dan jerigen. Saya ikat di triplek itu jerigen untuk dipakai mengapung dan menyelamatkan adik dan ibu saya," ucapnya dengan nada ketir.
Dengan alat seadanya, mereka berusaha menyelamatkan diri bermodalkan jerigen dan papan triplek kecil tersebut.
"Kami ada puluhan jam di tengah laut. Dari jam 12 siang sampai jam 6 pagi, baru ada kapal yang lihat," lanjutnya.
Ia mengaku tak tahu dengan nasib penumpang lainnya. Namun ada beberapa dari mereka yang menyelamatkan diri menggunakan gabus ikan.
Saat pagi hari, laut mulai tenang. Namun ia sadar, jarak mereka dengan kapal yang tenggelam semakin jauh.
