Deka mengungkapkan, meski pas-pasan, hidup mereka sekeluarga sampai detik ini bisa terpenuhi berkat dua karung ubi kayu yang harus mereka kupas, cuci, parut dan dibuat menjadi kasuami setiap hari.

“Demi keluarga, sampai detik ini saya mampu bertahan. Pernah kerja di proyek tapi saya tinggalkan karena penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atas saran ibu saya, akhirnya mulai beralih usaha berjualan kasuami,” tuturnya, Kamis (29/4/2021).

Deka mengungkapkan alasannya memilih meninggalkan kampung halaman di Tomia, Wakatobi, dikarenakan di  desanya tak ada pekerjaan baginya. Sehingga dia memantapkan merantau di Kendari.

Dia berharap bisa pulang kampung setiap hari raya lebaran. Tapi apalah daya, mereka harus memperhitungkan ongkos yang harus dikeluarkan untuk mudik, dikarenakan penghasilan yang tidak seberapa.

Jika dihitung-hitung, penghasilan bersih yang mereka dapatkan hanya sekitar Rp 100 ribuan. Sebab penghasilan yang didapatkan harus disisihkan untuk modal membeli ubi kayu 2 karung per hari seharga Rp 200 ribu. Belum lagi sewa lapak di pasar, dan panjar di setiap toko yang mereka titipkan kasuami.