KENDARI, TELISIK.ID - Karena tidak memiliki biaya hidup, seorang anak berusia 10 tahun terpaksa harus jadi pengamen dan tidur dalam sebuah kardus bekas di pinggiran jalan Kota Kendari.

Guna memenuhi kebutuhannya, terpaksa ia harus mengamen di perapatan lampu merah sejak usia lima tahun.

Anak-anak pada usia dini seharusnya menikmati masa bermain dan mengenyam  dunia pendidkan yang layak, namun berbeda yang dialami oleh Slamat, earga Lorong Melati Kelurahan Baruga, yang hidup hanya ditemani oleh sang Nenek yang telah berusia lanjut. Ibunya telah lama meninggal dunia, sementara sang Ayah pergi untuk bekerja di daerah lain.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia mengambil inisisatif untuk menjadi seorang pengamen cilik di lampu merah perapatan Ranomeeto, hal ini ia lakukan sejak ia berusia 5 tahun. Hasil mengamen ia dapat mencapau Rp 80 ribu per hari.

Slamat mulai mengamen sejak pukul 06.00 Wita hingga 01.00 Wita dini hari. Dalam menjalankan profesinya sebagai pengamen, terkadang ia harus istirahat dan tidak pulang ke kamar kontrakan hingga kardus bekas pun ia jadikan sebagai tempat naungan dan tidur di pinggiran jalan.