JAMBI, TELISIK.ID - Prof. Ir. H. M. Havidz Aima, MS., Ph.D. CFRM, siapa yang tidak mengenal sosoknya di Tanah Pilih Pesako Betuah, Jambi? Tapi jangan lupa bahwa dia bukan saja tokoh lokal tetapi juga sudah berkiprah di tingkat nasional.
Dilahirkan dari pasangan suami-isteri saudagar tingkat desa Seling, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi dengan penghasilan yang cukup. Ayahnya bernama Ismail dan Ibunya bernama Zainab. Kedua orangtuanya sama-sama tidak mengenyam pendidikan formal. Ismail masuk sekolah rakyat (SR) hanya sampai kelas 3 SR, lalu Zainab hanya merupakan alumni dari program Pemberantasan Buta Huruf atau biasa disingkat PBH.
Havidz lahir sebagai ketua regu dari 9 bersaudara. Adik-adiknya bernama Faizah, Lukman, Abdullah yang meninggal saat usianya masih bayi. Adik yang lain bernama Rummaniah, Raimah, Rosnida, M. Hazil, dan Ramziah.
Havidz kecil dibesarkan di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Dia tinggal di komunitas Islam ortodok yang tua-tengganainya pada waktu itu mengecam atau melarang Havidz meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) karena sangat dikhawatirkan tidak dapat membaca ayat “kulhu” untuk orangtuanya ketika orangtuanya wafat kelak.
Sejak kecil dia telah terbiasa (dibiasakan lebih tepatnya) untuk tidak bergantung kepada kedua orang tuanya yang berpenghasilan cukup tersebut.
