Kemudian, dia mulai mengisahkan awal mula ia tertarik ingin membuka sekolah bagi anak anak yang memiliki kekurangan itu. Yafsin merasa miris melihat anak-anak ini terkesan tidak diterima oleh sekolah umum, melihat anak-anak ini ada kelainan mental.

“Kelihatannya kan mereka seperti kurang-kurang (kelainan mental), secara IQ mereka itu kurang. Akhirnya mereka tidak bisa sekolah, jadi ketika mereka digabung dengan yang normal kelihatan sekali mereka diganggu seperti diejek-ejek begitu. Sehingga mereka juga tidak mau sama-sama, berarti harus ada sekolah sendiri untuk mereka, jadi disitulah mulanya 2015 kita buat sekolah semacam ini,”ungkapnya.

Saat merintis SLB ini Yafsin hanya memiliki sembilan orang siswa. Selain itu, kata Yafsin Yaddi, untuk melakukan proses belajar mengajar terpaksa menumpang di rumah warga di Perumnas Poasia. Banyak tantangan yang harus dia hadapi, mulai dari mengurus izin pendirian, hingga mencari murid yang berkebutuhan khusus, tenaga pengajar (guru), tanah dan bangunan sekolah.

“Yang kita pikirkan anak-anaknya, bagaimana bisa resmi bersekolah bisa mendapatkan ijazah dan bisa melanjutkan pendidikan. Karena sekolah yang kami buat belum dapat ijin terpaksa untuk mengikuti ujian anak-anak ini kami titip di sekolah lain untuk bisa ujian juga, sebab walaupun sudah memiliki sekolah kalau tidak ada ijin dari pemerintah tidak bisa ujian,” ucapnya.

Pria 51 tahun itu menceritakan setelah pengelolah mendapatkan tanah kurang lebih 1 hektare, Yafsin secara bertahap mulai membangun sekolah itu. Karena sulitnya kendaraan untuk mencapai sekolah, sehingga hanya bisa menggunakan bahan-bahan seadanya saja, seperti atap rumbia dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.