“Ruangan ini kami buat ukuran 15x4 meter dan ada dua tempat belajar lagi ukuran 2x3 meter. Kami dibantu oleh beberapa orang saja dan bahan-bahan yang kita pakai untuk membangun ruang belajar ini, seperti bambu hanya kita ambil dekat sini saja. Yang saya beli hanya atap dan pengikatnya saja,” ucapnya dengan logat Muna.
“Agak rumitlah kalau material berat mau masuk kesini, atapnya saja dipikul untuk sampai, yah jadinya juga sudah seperti ini saja. Karena kalau mau ambil ijin dari pemerintah maka kami harus ada bangunan fisik dulu. Sehingga sejak 2018 gedung yang terbuat dari bambu itu terus digunakan hingga saat ini,” sambungnya.
Masalah tidak hanya sampai disitu saja, anggaran yang terbatas membuat ia harus memeras keringat, apalagi ia harus menggaji tenaga pengajar akibat belum adanya bantuan dari pemerintah. Sehingga gajinya sebagai guru mesti ia sisihkan untuk membantu mereka.
“Jadi kita harus bantu juga anak-anak ini, kita jemput kemudian antar pulang belum lagi perlengkapannya itu kita pakai dana pribadi. Selain itu untuk menggaji guru itu harus kita siapkan juga,” ungkapnya.
Atas dasar keprihatinannya, Yafsin tidak ingin terus membiarkan hal tersebut, karena untuk mengubah sesuatu mesti datang dari kita sendiri. Sehingga dengan adanya sekolah yang ia dirikan bisa memberikan ruang bagi anak-anak ini untuk mendapatkan pendidikan seperti anak normal lainnya.
