“Saya juga kalo jemput anak-anak ini biasa pakai motor. Boncengannya bisa sampai empat orang. Yah ini saya lakukan merupakan panggilan jiwa untuk memberikan pendidikan. Karena di sisi lain saya juga kan guru bagi anak yang memiliki keterbelakangan mental,” ungkap Yafsin yang berprofesi sebagai guru.
Kini SLB yang dirintisnya telah mendapatkan ijin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), selain itu sudah bisa mendapatkan dana BOS. SLB Kusuma Bangsa saat ini memiliki kurang lebih 28 murid dan telah berhasil menamatkan siswanya. SLB Kusuma Bangsa juga sudah memiliki 9 guru, meskipun statusnya masih guru honorer.
“Jadi kami juga sudah ada ijin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), jadi kami sudah menerima dana BOS. Untuk anggarannya lebih banyak untuk anak-anak saja, seperti perlengkapan sekolah dan sewa untuk antar jemput. Untuk tenaga pendidiknya kami kesulitan, kami menggaji sebelumnya dari dana BOS itu Rp 300 ribu perbulan. Tapi sudah ada aturan baru katanya dana BOS tidak lagi digunakan dengan hal seperti itu. Hal ini yang membuat kami harus memutar otak supaya tenaga pendidik kami tetap mendapatkan haknya, apa lagi mereka masih honorer,” cemasnya.
Baca juga: Pelaporan Pengunaan Dana Panwascam Lewat Aplikasi
Saat ini SLB Kusuma Bangsa telah memiliki dua buah gedung permanen yang diberikan oleh banyak donatur. Gedung tersebut digunakan sebagai ruang belajar, kemudian ada juga bantuan kamar mandi bagi anak disabilitas.
