Pertama, ia melewati air, dan basah; Kedua, ia melewati tanah dan menjadi lumpur; Ketiga, melewati udara kemudian menjadi tanah liat; Keempat, kemudian ia melewati api lantas menjadi tanah liat yang terpanggang.
Dengan demikian ruh (yang nonmeteri) melewati semua elemen dasar dunia materi (air, tanah, udara dan api), dan selanjutnya ruh tersebut menjadi tersimpan dalam wadah tanah liat-yakni tubuh, maha suci Allah.
Sejalan dengan itu Nurcholish Madjid menulis dalam konteks malam lailatul qadar sebagai berikut; bahwa berlepotannya Nabi dengan lumpur dan basahnya Nabi dengan air sebenarnya adalah suatu peringatan kepada kita bahwa jenjang yang paling tinggi dari pengalaman ruhani, dari mana kita berasal, yaitu dari tanah dan air.
Dalam konteks proses yang dilukiskan di atas, Tuhan juga menyertakan emosi, pikiran dan tenaga (energy), yang juga terbenam dalam empat elemen materi tersebut. Esensinya ruh masih dekat dengan Tuhannya, masih suci seperti awal kejadiannya, cuma telah berada dalam tabir oleh materi-tubuh.
Tuhan terus menerus menaburi rakhmat dan sifat ketuhanan kepada ruh, sehingga setiap individu ruh adalah perantara antara surga dan dunia.
