"Yah perbedaanya jauh, dulu perputaran jual beli jam lumayan bagus. Kalau sekarang banyak HP dan banyak persaingan jadi sulit. Dulu saya bisa belanja jam tiga kali dalam satu bulan, itu sekitar tahun 1989-an, sekarang boro-boro, setahun juga kadang nggak pernah belanja, karena sepi pengunjung," tambahnya.

Untuk penghasilannya sendiri, dahulu, Satria bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah. Namun, sekarang hanya puluhan ribu saja per hari.

Baca Juga: Aksi Kamisan Sultra Peringati September Hitam, Tolak Lupa dan Lawan Impunitas

"Dulu bisa sampai jutaan sehari, tapi sekarang nggak menentu, sehari paling dapat Rp 25.000 sampai Rp 50.000. Kalau ada juga jamnya yang laku baru dapat gede, tapi jarang kebanyakan cuman servis atau ganti baterai," tuturnya.

Meski sudah tidak seramai dulu, Satria masih tetap setia menekuni profesinya. Baginya, di umur yang sudah tidak lagi muda, tidak ada pilihan profesi lain untuk mencari rezeki, selain bertahan menjadi tukang reparasi dan jual beli jam tangan.