PKB terkesan dibutuhkan oleh Gerindra hanya sekadar memenuhi presidential threshold dalam mengusung Prabowo Subianto semata. Padahal jika dicermati, Muhaimin Iskandar juga dicalonkan sebagai capres dari PKB. Sehingga, disinyalir hubungan PKB dan Gerindra menjadi memanas, belum kompak, di tengah upaya kedua partai itu membangun sekretariat bersama (Sekber).
Upaya Muhaimin Menaikkan Posisi Tawar
Muhaimin Iskandar menyadari kans dirinya sebagai capres mengecil. Sehingga, Cak Imin berharap besar memiliki peluang sebagai cawapres. Hanya saja dalam posisi berkoalisi dengan Gerindra terkesan yang mengapung di publik. PKB dibutuhkan oleh Gerindra, disebabkan oleh upaya memperoleh tambahan dari ceruk besar massa Nahdlatul Ulama (NU).
Unsur Islam dari basis NU ini yang menjadi prioritas Prabowo. Sehingga nama-nama yang turut masuk radar oleh Gerindra dan Prabowo juga turut dari NU seperti Khofifah Indarparawansa, Said Agil Siradj, dan Erick Thohir. Hanya saja, nama Cak Imin, hanya diperhitungkan dalam urutan menuju akhir, jika tak ingin dikatakan posisi buncit.
Dalam poros koalisi Gerindra dan PKB ini, memang disepakati bahwa Muhaimin Iskandar dan Prabowo Subianto yang akan bersama merumuskan cawapresnya. Meski begitu, posisi Muhaimin dan PKB ditenggarai dapat saja hanya sekadar pelengkap, diajak tetapi kurang diperhitungkan, juga disinyalir bukan yang berperan besar. Kemungkinan menyembul di permukaan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno, juga masih menguat mengapung di publik.
