Jika demikian, KIB tentu saja semakin perlu mencermati situasi perpolitikan ke depan dengan disertai perhitungannya. Pilihan yang menarik dan menguntungkan adalah berkoalisi bersama PDIP, konsekuensi yang dapat terjadi adalah Koalisi Indonesia Bersatu hanya tinggal nama saja.

Maupun berkoalisi dengan poros Partai Gerindra-PKB, atau poros Partai Nasdem-PKS-Partai Demokrat konsekuensinya Koalisi Indonesia Bersatu menjadi KIB plus.  

Pilihan pahit juga dapat dipilih meski terakhir, tetap mendorong paket pasangan calon dengan KIB, meski dengan peluang menang yang kecil. Jika capres yang dipilih adalah salah satu ketua umum dari ketiga partai tersebut dengan elektabilitas nol koma sekian.

Namun terbuka juga tawaran pilihan relevan dan bijak, mengusung paket pasangan calon alternatif yang dihadirkan berdasarkan figur yang potensial mengejutkan publik, figur yang sesuai hot isu dalam menghadapi situasi pada saat itu, dengan catatan popularitas dan penerimaan publik adalah positif terhadap pasangan calon tersebut.

Sosok alternatif ini tidak harus dari internal salah satu dari ketiga partai tersebut, bisa saja perseorangan yang profesional dan bukan anggota partai manapun. Pilihan ini konsekuensinya adalah koalisi yang dibentuk dari beberapa partai ini mengakomodir figur perseorangan di masyarakat, KIB hanya sebagai wadah sosok maupun pasangan calon yang potensial tetapi bukan anggota partai manapun. (*)