"Jadi kalau ada yang tidak sepakat ya sudah nanti pasti akan dibuang pada tahun ketiga atau pada tahun keempat. Dibuangnya itu bisa dengan halus atau kasar seperti lewat kasus-kasus," jelas Indaru.
Situasi ini, menurut Indaru, sengaja diciptakan oleh Prabowo untuk membuat partai-partai dalam KIM berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk meninggalkan koalisi. Dengan demikian, KIM diharapkan tetap solid dalam mendukung Prabowo hingga Pilpres 2029.
Senada dengan Indaru, pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai bahwa langkah Prabowo ini bertujuan untuk memastikan kesetiaan partai-partai pendukungnya di pemerintahan.
"Dengan demikian, kalau dia melihat ada partai-partai yang tidak loyal atau kurang setia, nah ini mungkin jadi dasar Prabowo melakukan reshuffle kepada kader partai yang dinilai tidak loyal," kata Jamiluddin.
Menguji Golkar dan PSI?
