"Kami terombang-ambing dan menahan perut sakit sepanjang perjalanan. Seringkali kami terguncang dan ada suara 'jedak' lalu kami spontan berteriak bersama," menukil cerita Anis di unggahan facebooknya, Senin (22/5/2023).

Dalam perjalanan itu, Anis bersama tim mesti melewati jalan yang dihubungkan beberapa jembatan tua tidak layak pakai. Ia menyebut, penggunaan jembatan berbahan besi dan kayu itu hanya untuk menghubungkan satu penderitaan menuju penderitaan lain.

"Seringkali tiba-tiba ada jalan mulus, kami bernafas lega. Tetapi ternyata hanya 20 meter. Lalu kami bertemu lagi dengan jalan yang rusak," keluhnya.

Selain itu, Anis mengeluhkan pula tidak adanya lampu penerang di sepanjang jalan. Keadaan itu sangat berpotensi menimbulkan bahaya bagi pengendara sewaktu malam hari, manakala hutan dan semak belukar mengelilingi ruas jalan.

"Sepanjang perjalanan ketika mulai memasuki Buton Utara, sinyal ponsel juga hilang untuk semua provider telekomunikasi. Sinyal baru muncul saat memasuki Ereke, ibu kota Buton Utara, itu pun kadang byar pet (kadang muncul kadang hilang)," kesalnya.