Andi sendiri bekerja sebagai sopir mobil penumpang melayani rute Ereke-Labuan. Ia rutin mengantar penumpangnya berangkat dari pusat kota Buton Utara, Buranga ke pelabuhan feri Labuan, Wakorumba Utara, melewati jalan berstatus jalan kabupaten.

Setiap hari, Andi kerap menantang bahaya ketika melintas di atas lintasan berbatu dan berlubang tersebut. Kondisinya belum beraspal membuat lumpur selalu memenuhi badan jalan saat hujan turun. Bahaya pun semakin mengancam lantaran jalan menjadi licin.

"Ereke ke Labuan itu sepanjang jalan tidak ada aspal kita lihat. Pengerasan tapi pengerasan lama. Modelnya iru kerusakannya lubang-lubang besar, baru ada pendakian tinggi," ujarnya.

Katanya, ia dan teman-temannya sesama sopir mobil penumpang selalu mewaspadai tiga titik terjal yang di sisinya terdapat jurang, terlebih kala musim hujan. Seringkali mobil mereka tidak mampu melaju hingga melewati ketinggian.

"Kalau musim hujan itu to pendakian, kalau muatan-muatan cuma 3 ton atau mobil-mobil kap biasa 1 ton atau 2 ton itu dia mundur. Tidak bisa mendaki, padahal pengerasan hanya saja licin. Rawan di situ, kadang kita mundur itu," tuturnya.