Andi mengungkapkan ruas jalan itu sekarang sebagian masih terhubung dengan beberapa jembatan berbahan batang pohon kelapa.

Salah satu masalah sering mendera Andi dan sopir lain adalah mobil yang dipakai cepat mengalami kerusakan. Sudah pasti setiap bulan mereka menyisihkan biaya hingga hampir satu jutaan untuk perawatan mobil di bengkel.  

"Tidak pernah absen masuk bengkel. Jadi di sini ada bengkel khusus. Jadi mereka itu kalau dari Labuan pulang ke Ereke pasti mereka menempel di bengkel. Mobil baru keluar, belum sampai satu tahun kalau kita lihat modelnya itu kayak umur empat tahun tiga tahun," jelasnya.

Warga Butur lain berdomisili di Desa Wantulasi, Kecamatan Wakorumba Utara, Rudi (nama samaran) berkata, untuk mengurus kebutuhan tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia harus mendatangi pusat kantor pemerintahan di ibu kota berjarak sekitar 80 kilometer dari tempatnya.

Setiap menempuh perjalanan sehari pulang-pergi, Rudi butuh perjuangan keras lantaran kondisi ruas jalan nyaris semuanya  rusak.