Mengapa ia tak berdagang di Wakatobi? Yang dikoar koarkan sebagai surga pariwisata bawah laut? Mengapa ia tak memilih Kendari yang tidak sejauh Asmat Papua? Apa yang dilihatnya di Asmat?
Pertimbangan yang paling mendasar—dan kemungkinan dimiliki oleh kebanyakan pedagang di Wakatobi adalah menyasar sebuah tempat dengan jumlah pesaing lebih sedikit. Wakatobi dan Kendari telah tumbuh dengan pedagang berbagai suku, mendominasi perdagangan dan atau bahkan ada yang memonopoli mata rantai perdagangan dan jasa—pakaian, makanan, kapal, akomodasi--. Ia mengatakan, monopoli di kota kecil membuat pedagang pedagang yang datang belakangan kesulitan untuk bersaing.
Pemegang modal besar bisa menekan harga serendah mungkin, atau mengintervensi pasar sehingga pedagang kecil atau pedagang pemula tak mampu bergerak dan pada akhirnya mati. Ia juga merasakan bahwa pilihan politik, misalnya mendukung partai A atau mendukung pemimpin dari golongan B, akan membawa konsekuensi sosial. Pilihan ia pada periode sebelumnya—calonnya kalah--- membuatnya dijauhi secara perlahan di Tomia, dan ini menyakitkan. Menurutnya, menjadi dewasa dan tua, ternyata seringkali tidak sejalan dengan berpikir dewasa, yang justru banyak membencinya adalah orang dewasa tua yang tidak sejalan dengan pilihan politiknya.
Lainnya, contoh meski Wakatobi di dengungdengungkan sebagai surga bawah laut, banyak orang seusianya (saat itu ia berusia 22 tahun) tak mampu melihat peluang karena keterbatasan mereka mendapatkan informasi cukup, atau keterbatasan ketrampilan mereka di aspek kepariwisataan. “Saya bisa menyelam gaya bebas, tapi untuk jadi penyelam profesional kan butuh ilmu juga,” katanya. Ia melihat tidak semua warga Wakatobi berkesempatan untuk mendapatkan ilmu menyelam profesional. Apa yang hendak disampaikannya adalah di luar dari komitmen pemerintah yang membuka infrastuktur di Wakatobi, membuka akses informasi, dibutuhkan juga kesabaran untuk meningkatkan kapasitas warga Wakatobi.
Bicara tentang kapasitas warga berarti berbicara tentang berapa anggaran Pemerintah yang dikeluarkan untuk meningkatkan sumberdaya manusia di daerahnya. Di tahun belakangan ini, setelah lama meninggalkan Asmat, saya sering terlibat dalam mereview program Pemerintah dan terkejut melihat besarnya anggaran untuk pembangunan fisik dan infrastruktur dibanding pembangunan sumberdaya manusia. Alasan pemangku program adalah lebih mudah mengukur capaian dari pembangunan fisik dibanding mengukur capaian dari keberhasilan sumberdaya manusia. Presiden Jokowi mendengungkan tahun ini adalah tahun dimana sumberdaya manusia Indonesia harus ditumbuhkan. Tapi ini jalan yang berliku dan terjal tampaknya.
