Saya tinggal setahun lebih di Asmat, mempelajari banyak hal dari mereka yang hidup penuh tantangan di sana dan bertemu lebih dari 50 pedagang yang berasal dari luar Asmat. Kota kecil ini menjadi gula bagi para pedagang yang tak melihat daerahnya sebagai gula. Generasi kedua para pedagang ini saya ketahui mengalami peningkatan kesadaran karena orangtua mereka tak ingin anaknya merasakan kepahitan hidup yang sama.
“Saya kirim anak saya sekolah di Surabaya,” kata pedagang A tersebut pekan lalu melalui whatsapp. “Berharap ia lebih pintar dari saya, dan suatu saat kembali Wakatobi atau daerah lain di Sulawesi Tenggara, membangun daerahnya sendiri.” Harapan ia yang penuh emosional menggugah kesadaran saya bahwa sejauh jauhnya seseorang pergi, ia merindukan tempat dimana ikatan sosial telah mengikatnya. Rasanya disaat seperti ini, bukan lagi tantangan yang dicari, melainkan tempat dimana seseorang merasa menjadi bagian dari ‘rumah’ dan ikut membangun rumahnya. (*)
