Di sisi lain, seorang pedagang pinggiran kali Kadia di Jalan Kol. H. Abd Hamid, Asad juga masih sibuk mengurusi pembongkaran lapaknya.

Ia sudah menempati pinggiran kali Kadia selama 23 tahun untuk membuka warung makan. Selama itu ia hanya menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut.

Asad berkaca-kaca saat ditanya kelanjutan nasibnya setelah tempat usahanya harus diluluh lantakan. Ia mengaku kecewa pada pemerintah kota karena hanya membongkar tanpa memberi solusi, harus dikemanakan para pedagang kecil sepertinya mengais rezeki.

Ia mengaku, tak menerima kompensasi apapun dari pemerintah kota atas kerugiannya tersebut. Sebelum dibongkar, sehari-hari Asad bisa mengantongi Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu atas hasil usahanya.

Sementara itu, salah seorang pedagang buah di pinggir kali Kadia, Nursiah masih beruntung dan bernapas lega. Ia memindahkan dagangannya dari pinggir kali ke sebrang jalan dengan menyewa sebuah toko.