Mengatasi pandemi COVID-19 ini konsep umumnya bukan sekadar 3M seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Tetapi juga dilakukan dengan penerapan 3T yakni testing, tracing, dan treatment, dan vaksinasi.

Pilihan pemerintah dengan tidak berupaya maksimal dalam penerapan 3T, tentu akan selalu menjadi kontroversi bagi masyarakat. Wajar akhirnya, jika di masyarakat akan timbul persepsi liar dengan menyatakan: “Tinggi dan rendahnya dari kasus virus COVID-19 tergantung dari pemerintah.”

Awalnya, Kementerian Kesehatan menunjukkan hasrat yang tinggi menjelaskan penerapan ideal seperti dari satu kasus positif paling sedikit 15 orang yang akan di tracing dan kemudian di tes. Namun, lambat-laun langkah Pemerintah malah disorot, sebab trend penurunan COVID-19 ini tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah testing dan tracing.

Contoh saja, jika 14 Juli terdapat 240.724 spesimen (54.517 kasus), tetapi seminggu kemudian melorot hingga 153.330 spesimen pada 21 Juli (33.772 kasus), (detik.com, 22 Juli dan 07 Agustus 2021).

Konsep dalam penanganan pandemi bahwa jika semakin banyak jumlah testing dan tracing maka semakin riil jumlah data penularan dengan kondisi penularan sebenarnya di lapangan, dan juga peningkatan pemeriksaan di masyarakat dilakukan untuk mendeteksi kasus-kasus baru yang mungkin belum terungkap dengan tujuan nantinya dapat membantu mencegah penyebaran virus COVID-19.