“Sebenarnya hati saya tergerak bermula dari melihat para petani kopi mulai menanam komoditas lain, alasannya karena harga jual kopi anjlok setiap tahunnya,” tutur Suhandi, saat ditemui telisik.id, Senin (17/2/2025).
Petani kopi di Desa Hendea selalu dihantui kekhawatiran oleh harga jual kopi yang kian merosot setiap tahun. Kondisi ini tidak dapat menunjang perekonomian bagi keberlangsungan hidup mereka.
Petani lokal pun masih tekendala perihal peningkatan kapasitas pengetahuan yang memadai. Antara lain perihal proses penanaman, perawatan, serta pada pemasaran komoditas kopi yang sampai hari ini masih bergantung pada pengepul sebagai pihak yang membeli komoditas biji kopi Desa Hendea.
Selama kehadiran produk UMKM bubuk Kopi Hendea di tengah kehidupan petani lokal, menjadikan para petani mempunyai tempat baru untuk menjual hasil panen mereka. Suhandi mengaku membeli biji kopi robusta dari petani lokal yang ia hargai Rp 50.000/liter.
Kendati demikian, Ia masih saja kehabisan stok biji kopi, sebab sebagian petani masih menjual hasil panen mereka ke pihak pengepul.
