Dari kondisi dan posisinya, seharusnya angka stunting di Kota Kendari bisa ditekan karena fasilitas dan kebutuhan untuk  menangani stunting tersedia, seperti kebutuhan ibu hamil dan menyusui, bayi di bawah dua tahun hingga remaja pra nikah.

Sementara tim pakar yang melakukan audit stunting di Kecamatan Nambo menjelaskan, dari data 100 kasus keluarga yang masuk kasus stunting, tim hanya melakukan audit terhadap 10 anak. Dari jumlah itu, 3 dinyatakan mengalami stunting dan satu anak diantaranya berisiko tinggi sehingga harus segera diintervensi.

Dari hasil audit tim pakar yang terdiri dari pakar gizi, dokter anak, dokter kandungan dan psikolog menunjukkan anak yang berresiko tinggi stunting berasal dari keluarga tidak mampu, kemudian diduga tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif dan tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

"Hasil wawancara kami dengan orang tuanya, memang dalam tiga bulan terakhir mereka kesulitan mendapatkan pangan, makan,  termasuk persoalan cuaca, ada infeksi karena menggunakan air tidak sehat sehingga berat badannya turun," ungkap Ketua tim pakar Dr Wa Ode Salma.

Selain anak, tim pakar juga melakukan audit terhadap lima ibu hamil dan lima calon pengantin. Untuk ibu hamil ditemukan satu kasus ibu hamil berisiko tinggi melahirkan anak stunting, sedangkan calon pengantin ditemukan satu orang berresiko rendah.