Seluruh kamar tidur, toko buku, gereja dan bar dipasang di dinding bawah tanah berukir Coober Pedy. Setelah 100 tahun tinggal tempat yang bagaikan galian itu, orang-orang yang menyebutnya sebagai rumah berencana untuk tidak pindah.

Coober Pedy pernah diliputi oleh samudra, yang membantu menciptakan tambang opal kota. Ketika air surut, mineral dari dasar laut samudera retak di bumi dan menciptakan opal berwarna-warni. Penduduk Coober Pedy mulai mengubah tambang opal yang dibuang menjadi galian permanen. Banyak yang mengubah tambang menjadi rumah darurat untuk menghindari panas.

Mengutip Kumparan.com, tak semua bagian kota ini berada di bawah tanah, hampir separuh bagian lainnya kota ini tetap berada di darat. Hanya saja, setengah penduduk lainnya memutuskan untuk hidup di bawah tanah, di gua-gua yang luas dan terowongan yang mereka sebut 'dugouts'.

Baca Juga: Mantan Bintang Porno Curhat Pengalaman Syuting dengan Shah Rukh Khan

Bukannya tanpa alasan, hal ini dikarenakan suhu ekstrem di kota ini yang sangat panas. Saking panasnya, suhu di kota ini bisa mencapai 40 derajat Celsius. Sehingga, penduduk Coober Pedy membangun kota mereka di bawah tanah. Bahkan, kota ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti perpustakaan, tempat ibadah, hotel, restoran, dan tempat olahraga. Coober Pedy juga dilengkapi dengan akses internet, air bersih, dan listrik.