Saat ditemui Rabu (10/6/2020), Muhammad Khoirul Soleh, mengatakan, daya kreatifnya menciptakan inovasi tanam padi sistem hidroganik itu kebetulan saja. Kolam ikan nila yang biasanya sebagai sumber air untuk pengairan bibit tanaman buah, ia manfaatkan untuk bertani padi.

Awalnya hanya kubangan air buat menyiram bibit. Terus, ia beri ikan. Akhirnya jadi budidaya ikan nila merah. "Nah, sekarang di atasnya saya bikin tanam padi,” papar Muhammad Khoirul Soleh.

Laki-laki kelahiran Magelang, 5 Januari 1975, menjelaskan, sistem hidroganik tersebut tidak banyak memakan lahan dan biaya yang mahal. "Apalagi kotoran ikan nila secara otomatis menjadi pupuk organik yang terserap akar padi," kelakarnya.

Jadi, padi itu ia tanam di paralon memanjang. Untuk mengairinya ia memakai pompa air akuarium berkapasitas 90 watt. Air yang tersedot itu ia alirkan ke pipa tanaman padi sehingga kotoran ikan otomatis menjadi pupuk. Dan, airnya itu mengalir kembali ke kolam, tapi sudah bersih karena tersaring akar. "Ya, sistemnya mirip akuarium," ungkap Irul.

Saat ini, ia masih belum bisa memastikan berapa berat dan kualitas padi yang dihasilkan. Namun, ia melihat, padi hidroganik yang ditanam di atas kolam seluas 19 X 5 meter tersebut telah tumbuh subur.