Abdul Malik, mengatakan tidak bisa tidur di malam hari. Menjelang penjualan, dia mengatakan merasa "hancur" dengan rasa bersalah, malu dan khawatir.

Tetapi mereka tidak punya pilihan lain jika masih ingin memberi makan keluarganya. Malik sudah pernah melakukan perjalanan ke ibu kota provinsi Qala-e-Naw untuk mencari pekerjaan yang tidak berhasil.

Dia bahkan meminjam banyak uang dari kerabat. Istrinya terpaksa mengemis penduduk kamp lain untuk makanan.

"Kami adalah delapan anggota keluarga. Saya harus menjual untuk menjaga anggota keluarga lainnya tetap hidup," katanya, menambahkan uang hasil penjualan Parwana hanya akan menghidupi keluarga selama beberapa bulan, sebelum Malik harus mencari solusi lain.

Nasib serupa juga menimpa Magul, 10 tahun, di provinsi tetangga Ghor. Dia menangis setiap hari menjelang hari ia akan diberikan ke seorang pria berusia 70 tahun untuk melunasi hutang keluarganya.