Orang tuanya telah meminjam 200.000 Afghan (US$ 2.200) dari tetangga di desa mereka. Namun tanpa pekerjaan atau tabungan, mereka tidak memiliki cara untuk mengembalikan uang itu.

Peminjam menyeret ayah Magul, Ibrahim, ke penjara Taliba. Ibrahim berjanji kepada pembeli bahwa dia akan membayar dalam sebulan. Tapi sekarang waktunya sudah habis.

"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan jika aku tidak memberinya anak perempuanku, dia akan mengambilnya," kata Ibrahim.

Krisis ini sebenarnya sudah diprediksi. PBB memperingatkan negara yang sudah tidak stabil itu akan menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

"Musim dingin ini, jutaan warga Afghanistan akan dipaksa untuk memilih antara migrasi dan kelaparan kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa kita," kata Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), David Beasley, dikutip dari AFP Oktober lalu.