"Sangat bermanfaat ya, karena kita jadi tau ternyata bisa membuat penelitian tentang ini dan itu di sekolah kita juga, sehingga saya juga bisa ajarkan pada siswa tentang apa-apa yang saya lihat hari ini di sini," ungkapnya.
Seperti hasil penelitian dari Febriana Latif Azzahra dan Raisya Qurata Aini, siswa Madrasah Tsanawiyah Negri (MTSN) 2 Kota Sawahlunto, Sumatra Barat yang memamerkan alat pendeteksi gas metana pada batu bara.
Terinspirasi dari banyaknya lahan tambang di Kota Sawahlunto, Febriana menjelaskan, tahun lalu pernah terjadi ledakan besar pada salah satu pertambangan batu bara di kota ia tinggal, sehingga menewaskan banyak orang hingga mereka mencoba meneliti dan membuat alat untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di tambang lagi.
"Alat ini dapat dihubungkan dengan handphone dengan koneksi internet. Nanti akan terdeteksi dan ada pemberitahuan jika ada gas metana di batu bara tersebut," tuturnya.
Walaupun alat yang ditemukan sudah cukup mendeteksi gas metana, kelembapan dan temperatur, Febriana menuturkan jika alat tersebut masih harus dikembangkan lagi, mengingat di area pertambangan tidak ada jaringan internet sehingga unsur-unsur yang dideteksi tidak dapat terdeteksi di handphone, namun tetap terdeteksi pada alat.
