Pertama, ulek bumbu bawang hingga halus, campurkan ke dalam ampas ketela dan parutan kelapa lalu aduk hingga merata. Kedua, tahap ini yang paling membedakan, pati dan adonan pertama dikukus bersamaan. Ketiga, adonan yang telah dikukus, remas-remas hingga membentuk adonan padat dan ambil bagian-bagiannya untuk membentuk angka delapan. Keempat, goreng adonan hingga gurih dan hasilnya siap disajikan.
Dari segi rasa, kue geblek lebih gurih, mungkin karena ada campuran tapiokanya. Kalau tuli-tuli rasanya lebih tajam dan lebih melekat di lidah, mungkin karena pengaruh bahan murni kaopi serta bawang merah.
Satu hal yang hampir dilupakan, jodoh sejatinya tuli-tuli atau geblek yaitu sambal. Bayangkan kue ini tanpa sambal, bagaikan langit tanpa awan, hambar rasanya. Bagaikan nikah tanpa mas kawin, tidak sah namanya. Terserah, mau sambal ala Jawa atau Sulawesi Tenggara, tergantung inovasi masing-masing. (C)
Reporter: La Ode Ismail
Editor: Haerani Hambali
