Syarifudin mengaku bertemu warga di Buton bagian timur, tepatnya di Lasalimu dan Kapuntori. Masyarakat di dua kecamatan itu merasakan pelayanan publik yang kurang memuaskan.

Pelayanan publik yang dirasa kurang memuaskan, menurut Syarifudin, yakni ketika warga di Kapuntori dan Lasalimu ke Pasarwajo, Ibu Kota Kabupaten Buton, untuk mengurus keperluan administrasi.

“Namum kadang setibanya Pasarwajo yang mereka dapati operatornya tidak ada padahal jarak yang mereka tempuh cukup jauh. Terpaksa mereka harus kembali di hari berikutnya. Ini mencerminkan kualitas pelayanan publik kita yang masih rendah,” tuturnya.

Pelayanan publik yang masih terbatas itu mendorong Syarifudin dan Alvin untuk melakukan terobosan baru melalui program digitalisasi desa. Masyarakat tidak perlu lagi ke Pasarwajo mengurus administrasi kependudukan, tapi semua dilakukan di desa.

“Program digitalisasi desa ini memudahkan masyarakat dalam mengurus berkas kependudukan maupun perizinan lainya. Tidak perlu lagi ke dinas terkait tapi semua bisa dilakukan melalui desa,” papar Syarifudin.