Lebih lanjut, dia menjelaskan, akibat sistem itu pula ongkos pelaksanaan pemilihan jadi mahal dan lalu masing-masing kontestan mencari suara tanpa melihat etik dan moral. Sementara, secara esensial, landasan moral dan etik ada pada posisi di atas konstitusi, undang-undang, dan peraturan-peraturan lainnya. “Jadi itu sebetulnya adalah jalan tengah jika musyawarah mufakat tidak bisa dicapai,” terang Hugua.
Kata Hugua lagi, keterbelahan dalam politik itu memang sulit dihindari dan hanya bisa dieliminasi dengan memberikan kesadaran kepada publik bahwa politik adalah sarana. Setelah pemilihan selesai, maka kohesi sosial masyarakat harus terbangun kembali.
Celakanya, ketika permainan berjalan, ditabu dengan pertarungan yang keras. Maka banyak rakyat yang memahami bahwa ini adalah sebuah filsafat, ini adalah sebuah harga diri kehidupan, akibatnya berkelahi. Padahal sebetulnya, yang dilantik sudah menjalankan tugas pemerintahan, kita masih berkelahi, kan bodoh namanya.
Inilah edukasi akhirnya, bagaimana mendidik masyarakat bahwa sebetulnya pemilu itu adalah sarana, it is just a game (ini hanya permainan). Dengan memiliki kesadaran itu, maka isu apapun yang dimainkan oleh kontestan pemilu, sekalipun memainkan isu agama, tak akan ada perpecahan di masyarakat. (A)
Penulis: Muhammad Rizky
