Potensi itu kemudian membawanya menempuh sekolah di SMA Negeri 1 Baubau. Sadar bahwa terlahir dari anak orang miskin dan hidup jauh dari orang tua, dia lalu bekerja serabutan demi menyambung hidup di Kota Baubau. Pernah bekerja sebagai kuli dan buruh Pelabuhan Murhum.
Di sini, dia sempat diangkat jadi mandor buruh pelabuhan yang membawahi sekitar 250 buruh. Setelah tamat dari SMA Negeri 1 Baubau, Hugua mendapat beasiswa untuk lanjut studi di Universitas Haluoleo (UHO), jurusan pertanian.
Saat itu dia berusia 18 tahun, ayahnya bernama La Basa meninggal dunia. Di Kendari, dia tetap banting tulang jadi kuli bangunan. Tahun 1983 mengajar di SMA Muhammadiyah sampai wisuda, membuka kursus bahasa Inggris, kursus akuntan, dan segala macam pekerjaan lainnya dia kerjakan.
Meski begitu, masih di tahun 1983, dia juga aktif berorganisasi di HMI. Kemudian terpilih sebagai Ketua HILLSI (Himpunan Lembaga Latihan Swasta Indonesia) dari Depnaker dan Ketua Himpunan Penyelenggara Pendidikan di luar sekolah oleh masyarakat dari Dikbud. Atas prestasi itu, nama Hugua mulai tenar, dikenal oleh banyak orang.
Pengalaman itu membuat koneksi, kematangan emosional, dan cakrawala pemikiran Hugua dengan dunia luar semakin luas. Bahkan sebelum selesai, dia terpilih sebagai peserta Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia selama 6 bulan.
