“Pengalaman yang saya miliki sangat mempengaruhi eksistensi kita di DPR. Yang kita hadapi adalah menteri, negarawan. Kita mengemban fungsi kontrol, budgeting, kalau pengalaman mereka lebih hebat dari kita, apa gunanya, kita jadi koordinat dari mereka. Tapi kalua kita sudah punya pengalaman akhirnya tiga fungsi itu optimal,” ujar Hugua.
Hugua dikenal vokal di Komisi II DPR RI oleh karena ada obsesi besar yang masih mengganjal pikirannya hingga kini. Orang tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Hugua sedang memperjuangkan pemekaran beberapa daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sebut saja beberapa di antaranya adalah persiapan pemekaran Provinsi Kepulauan Buton dari Provinsi Sultra, persiapan pemekaran Kota Raha dari Kabupaten Muna, persiapan pemekaran kabupaten Konawe Timur dari Kabupaten Konawe Selatan, persiapan pemekaran Kabupaten Kepulauan Kabaena dari Kabupaten Bombana.
Obsesi kedua yang masih mengganjal pikirannya adalah memperjuangkan kejelasan posisi tenaga honorer dalam penataan sistem negara. Karena itu, terang Hugua, revisi Undang-Undang ASN penting dilakukan. Kemudian, UU Agraria menjadi sorotan Hugua yang dinilainya masih merugikan masyarakat.
“Artinya, obsesi saya yang tidak bisa sendiri barang ini, memang tidak gampang dicapai, tapi kan ini adalah ikhtiar,” ungkap Hugua.
