"Jadi kalau dia mengambil satu ekor sapi di Bombana hitung-hitungan dia rugi dibiaya transportasi Rp 500 ribu, sementara jika mereka ingin memfulkan 3 sampai 5 ekor sekali angkut itu dia harus menunggu sampai 1 minggu sementara permintaannya mendesak. Belum lagi sapi yang dipotong sendiri terkadang dagingnya tidak sesuai harapan sehingga mereka harus gemukkan dulu sebelum di potong dan itu butuh biaya," jelasnya.

Menurut Saenal keberadaan daging ini sangat membantu ketika terjadi kekurangan daging. Dokumennya juga lengkap dan itu mampuh dibuktikan oleh pak Abrisam. Dia mengaku mereka juga telah berkomunikasi dengan pihak Bulog dan Bagian Karantina.

"Kami telah menghubungi Pak Deni kepala Bulog wilyah Kolaka, Kolaka Utara, dan Koltim melalu telpon selular. Katanya, tidak ada masalah selama itu dilakukan sesuai prosedur  serta memiliki dokumen resmi. Begitu juga pernyataan dari pihak karantina pelabuhan Tobaku/Katoi. Saat kami hubungi menurut mereka daging impor tersebut aman dan lanyak konsumsi," terangnya.

Baca Juga: Tak Lama Lagi Pegumuman Berkas CPNS

Dia juga mengungkapkan jika Abrisam bukan distributor, dia pengecer atau pembeli yang ketika ada kebutuhan mendesak baru dipesankan.