Berdasarkan Survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis misal pada Februari 2021, ketiga nama yakni Ganjar (10,6 persen), Ahok (7,2 persen) dan Tri Rismaharini (5,5 persen) memiliki elektabilitas tinggi dan/atau setidaknya di atas 5 persen dibandingkan dengan Puan yang hanya sebesar 0,1 persen, (Detik.com, 23 Februari 2021).
Wacana ini dilontarkan juga sebagai bentuk teguran tak langsung kepada Prabowo Subianto yang adalah Ketua Umum Partai Gerindra. Prabowo sangat berharap akan kembali berkoalisi dengan PDIP dan diusung sebagai calon presiden berpasangan dengan Puan Maharani.
Wacana ini digulirkan untuk merespons ketidaksolidan Partai Gerindra sebagai pendukung pemerintah dan/atau PDIP, dalam kasus kritik dari Fadli Zon menyindir Presiden Jokowi soal banjir Sintang.
Dengan mewacanakan menduetkan Ganjar-Puan seperti memberikan pesan bahwa, jika Gerindra tak solid mendukung pemerintah, tak bisa menertibkan kadernya, maka wacana sejak 2019 lalu untuk menduetkan Prabowo Subianto dan Puan Maharani seperti romantisme Koalisi PDIP-Gerindra di Pilpres 2009 lalu, akan terancam batal.
PDIP lebih baik mengusung paket calon presiden sendiri dibandingkan harus berkoalisi dengan Gerindra dengan mengusung Prabowo-Puan, yang mana kemungkinan menangnya tipis, dan ketidaksolidan kader-kader Gerindra sebagai pendukung pemerintah bukan tak mungkin juga dapat terjadi di Pilpres nanti.
