"Indonesia itu milik bangsa ini, milik kita semua. Jadi tidak perlu terlalu banyak orang untuk lakukan diskusi semacam ini, 10 atau 20 orang berkumpul itu sudah cukup," katanya.
Baca Juga: Tak Ingin Terkalahkan Perguruan Tinggi Lain, IAIN Kendari Siap Implementasikan Program MBKM
Lanjut kata dia, mahasiswa saat ini sangat canggih karena bisa belajar melalui internet, YouTube dan bahkan tiktok.
"Tetapi kajian langsung untuk mengasah otak itu, menjadikan diri kita untuk bisa berfikir sistematis, berbicara secara sistematis dan itu harus melalui pertemuan seperti ini," ungkapnya.
Tempat sama, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tenggara (Sultra), Muh Aliffuddin berpesan agar mahasiswa harus ikut berpikir konstruktif dan inovatif.
