Usaha mengumpul ikan lele ini, kata Suparman, sempat macet sekira 5 bulan di awal pandemi COVID-19, karena para pelanggannya yang berjualan juga terbatas. Namun dengan kesabaran, dia melaluinya sehingga situasi mulai membaik, setelah memasuki masa new normal.
Saat ini Suparman mengaku, melayani sekira 80 pedagang sari laut yang ada di Kota Kendari. Setiap harinya ia bisa menyuplai kebutuhan pedagang sari laut dan rumah makan sekira 60-150 kg. Dengan harga Rp 30 ribu perkilogramnya.
Baca juga: Anjungan Kembar di Tambat Labuh Dapat Dijadikan Tempat Konser Musik
Itupun sistem penjualan yang ia lakukan, hanya berdasarkan pesanan tanpa menawarkan pada rumah makan atau restoran, karena khawatir stoknya tidak tersedia. Menurutnya budidaya ikan air tawar jenis lele ini masih sangat berpeluang besar.
Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kendari menyebutkan, saat ini sebanyak 32 kelompok binaan yang melakukan budidaya ikan air tawar di Kota Kendari. Para pembudidaya ini tersebar di enam kecamatan, yaitu Abeli, Poasia, Baruga, Wua-wua, Kadia dan Kecamatan Puuwatu. Kelompok pembudidaya terbanyak berada di Kecamatan Puwatu dengan 10 kelompok disusul Kecamatan Baruga delapan kelompok dan Kecamatan Abeli enam kelompok.
