Jika ia tak memiliki pesanan, maka semua sapunya ia jual di pinggir jalan tempat biasanya ia duduk, hanya dengan beralaskan tikar dengan posisi tanah tempat duduk yang miring, bukan hanya sapu lidi yang ia jual namun terong hasil kebunnya juga dijual.
Seharian tangan yang keriput itu menyentuh lidi-lidi yang telah menghidupi dirinya, dengan segala kepasrahan dan kesabaran menanti rezeki. Tak jarang setiap hari hanya laku beberapa sapu namun tetap ia jalani dengan sabar.
Setiap para pengendara melewatinya, selalu ia selipkan senyuman sembari mengerutkan mata menahan debu-debu yang bertebaran mengenai dirinya.
Saat Telisik.id menghapirinya, terlihat sang cucu sedang berbaring di sampingnya berlindung dari payung jualan yang lebarnya hanya pas untuk melindungi diri dan cucunya itu.
Baca Juga: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ibu Ini Rela Rangkap Kerjaan Tukang Sapu dan Penjual Es
