"Misalnya pada Bahasa Indonesia, terdapat kuis-kuis yang disertai dengan jawaban di dalam teks ada soal, juga disediakan untuk tempat jawaban serta disampingnya terdapat barcode. Untuk mengetahui jawaban yang benar dan salah harus dilakukan penscanan," terangnya.
Tambahnya, pemanfaatan juga bisa diaplikasikan pada buku dalam bentuk poster dan gambar yang kemudian dibuatkan barcode. Misalnya informasi tentang perpustaakan. Guru-guru juga disediakan website khusus yang sudah lengkap dengan barcodenya.
"Untuk menjaga konsistensi siswa, kami juga sediakan pojok baca dan pohon literasi yang disediakan juga dengan barcodenya yang isinya hampir sama dengan perpustakaan dan mereka cukup antusias dan juga membantu pembelajaran mereka," katanya.
Pihaknya juga sudah bekerjasama dengan Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) dengan penandatanganan MoU.
Sementara itu, pihak GMBI yang diwakili oleh Lanang Manggala mengataka, SMAN 11 Kendari merupakan sekolah pertama yang menerapkan sistem literasi digital di Sultra.
